<![CDATA[Institute for Local and Regional Government Studies - News]]>Mon, 24 Sep 2018 20:03:54 -0700Weebly<![CDATA[Melihat Pesona Turki, Menatap Wajah Indonesia]]>Fri, 27 Jul 2018 05:57:25 GMThttp://insight-indonesia.com/news/melihat-pesona-turki-menatap-wajah-indonesiaBuku ini bukanlah novel, bukan pula kumpulan cerpen, apalagi antologi puisi. Namun membaca buku ini, saya seperti dibawa larut dalam ingar-bingar dan warna-warni kehidupan Turki, lengkap dengan beragam pesona di dalamnya.

Buku ini sangat menyala dan nikmat dibaca. Tentu lantaran ditulis oleh mereka yang pernah menghirup udara Turki, mencium bau keringat masyarakat di sana, dan mencercap segala budaya di dalamnya.


Mereka—penulis buku ini—adalah diaspora Indonesia di Turki, baik dalam kurun waktu lama maupun singkat, dengan latar belakang beragam mulai dari pelajar, mahasiswa, alumni, bahkan ada yang sudah menetap karena bekerja hingga berkeluarga di Turki. Para diaspora ini tentu saja mengalami proses kebatinan selama hidup dan berinteraksi dengan masyarakat Turki (hlm vi). Inilah yang menjadikan buku ini terasa hidup. 

Bagi saya, paling tidak ada dua alasan mengapa buku berjudul Kirmizi Beyaz: Warna-Warni Kehidupan Turki ini menarik untuk dibaca. Pertama, entah kebetulan atau tidak, Turki dan Indonesia memiliki banyak kesamaan.

Kedua negara ini memiliki mayoritas penduduk Islam dengan karakter moderat, punya bendera yang sama-sama didominasi warna merah dan putih, menganut sistem demokrasi, sama-sama mengalami masa kelam rezim represif militer, bahkan keduanya sama-sama tergabung dalam dalam beberapa organisasi internasional seperti Development Eight (D8), Organization of Islamic Conference (OIC), Global Twenty (G20) (hlm v). Ini artinya, membaca buku ini seolah kita sedang menatap wajah Indonesia.

Kedua, tulisan-tulisan yang tercakup dalam buku ini melingkupi bidang keilmuan yang beragam, seperti praktik keislaman di Turki, model pendidikan Turki, dominasi maskulin dan partiarkal di Turki, diplomasi politik Turki, budaya kerja dan pelayanan publik di Turki, sejarah konglomerasi di Turki, pemahaman atas disabilitas dan difabilitas di Turki, etnis Turki di Jerman, hingga menceritakan sejarah kudeta dan evolusi kepemimpinan di Turki.

Dalam tulisan “Berjayanya AKP dan Modalitas Kepemimpinan Erdogan” misalnya dijelaskan, secara politik, Turki muncul sebagai kekuatan baru di Timur Tengah. Di saat kemunculannya, negara-negara lain di kawasan itu justru bergulat dengan gejolak internal (Arab Spring) yang merongrong stabilitas politik di negara masing-masing.

Namun Turki tampil menjadi negara bersinar dengan julukan Turkish Model, yakni sebuah negara Muslim yang mampu menerapkan demokrasi dengan baik dan dapat perform dalam bidang ekonomi (hlm 146). 

Tentu capaian Turki tersebut membuka mata kita bahwa seperti halnya Indonesia, Turki juga punya kompatibilitas tinggi terkait hubungan Islam dan demokrasi. Lebih dari itu, Indonesia dan Turki sama-sama bukan Arab, dan keduanya mempraktikkan gagasan demokrasi, modernisasi, dan pluralisme.

Islam di Indonesia dan di Turki juga sama-sama mayoritas Muslim sunni. Apalagi lewat referendum April 2017 lalu, pemerintahan Turki sudah berganti dari sistem parlementer ke sistem presidensil. Inilah salah satu bahasan menarik dalam buku ini.

Hal menarik lainnya dapat dibaca dalam tulisan “Budaya Kerja dan Pelayanan Publik di Kota Eskisehir Turki”. Di sini disebutkan, pemimpin di Turki bukan lagi sebagai agent of change tapi juga sebagai agent of services (halaman 53).

Di Turki, perbaikan fasilitas jalan diperbaiki setiap enam bulan sekali, entah sudah rusak atau belum. Setiap kota memiliki lapangan udara domestik sebagai penghubung lalu lintas antarkota, di setiap kota bejibun taman yang disapu pagi, siang dan malam, transportasi terintegrasi, fasilitas kesehatan ada di setiap desa, budaya malu masuk dalam dunia kerja, dan pemimpin selalu terlibat dalam kegiatan warganya. 

Segala bentuk pelayanan publik di Turki seperti terdorong oleh besarnya cinta kepada negara yang juga sudah tertanam sejak “anaokul” (TK) atau “ilkokul” (sekolah dasar). Setiap pemimpin melakukan pekerjaan atas dasar kecintaan (halaman 59).

Tentu tema bahasan ini sangat inspiratif. Indonesia perlu belajar dari Turki terkait budaya kerja dan pelayanan publik. Seperti halnya Turki, para pemimpin Indonesia tidak boleh hanya sebagai agent of change, namun harus bertransformasi jadi agent of services.

Sekali lagi, membaca buku ini seolah sedang berselancar menyusuri setiap sudut kota Turki, lengkap dengan beragam khazanah dan peradabannya. Karena itu, saya sepakat dengan apa yang disampaikan Prof Komaruddin Hidayat (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dalam pengantarnya, “Buku ini setidaknya memberikan gambaran tentang multidimensi masyarakat dan negara Turki.

Sebuah kesaksian dari dekat menurut pengalaman dan versi masing-masing penulis, yang sangat berharga bagi mereka yang masih asing tentang Turki”.

Peresensi adalah Ali Rif’anAlumnus Pascasarjana Universitas Indonesia.

Identitas buku:
Judul buku: Kirmizi Beyaz: Warna-warni Kehidupan Turki
Editor: Budy Sugandi, Luthfi W. Eddyono, Safrin La Batu
Penerbit: Aura Publishing
Cetakan: I, April 2017
Tebal: xvi + 218 halaman
ISBN: 978-602-6565-90-7


]]>
<![CDATA[Membaca Warna-warni Kehidupan Turki]]>Fri, 27 Jul 2018 05:51:41 GMThttp://insight-indonesia.com/news/july-26th-2018Peresensi oleh Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang


Judul Buku Kirmizi Beyaz
Penulis : Lia Er dkk
Penerbit : Aura
Cetakan : Cetakan 1, April 2017
Halaman : 218 halaman
ISBN : 978-602-6565-90-7

Tidak dapat dipungkiri, Turki dan Indonesia memiliki banyak kemiripan, mulai dari sistem pemerintahan demokrasi yang dianut, masa kelam rezim represif militer, mayoritas penduduk pemeluk Agama Islam moderat, tergabungnya kedua negara tersebut dalam beberapa organisasi internasional yang sama, hingga kemiripan warna bendara dominan yang sama, yaitu merah putih.
Sisi praktik kehidupan sosial pun demikian, tak sedikit cara hidup, interaksi ditingkat masyarakat, budaya, hingga faktor-faktor lain yang kasat mata memiliki banyak kesamaan. Hal ini menjadi modal berarti kedua negara tersebut membangun sebuah hubungan positif produktif.
Turki dan segala warna-warni kehidupannya termuat secara sempurna dalam buku Kirmizi Beyaz ini. Gambaran Turki semakin nyata dan hidup karena buku ini narasikan langsung oleh para diaspora Indonesia di Turki, mulai dari pelajar, mahasiswa, alumni, juga beberapa yang sudah menetap di Turki karena bekerja atau berkeluarga (hal vi). Proses kebatinan yang dialami para diaspora menjadikan buku ini samakin penuh rasa dan kompleks.
Kumpulan tulisan dalam buku memuat beragam aspek yang berkaitan dengan Turki. Mulai dari tulisan yang mangkaji dominasi maskulin dan patriarkal di Turki, sejarah kudeta yang pernah terjadi, budaya kerja dan pelayanan publik, hingga menyangkut pengadilan konstirusional di Turki yang dibandingkan dengan Indonesia. Tidak luput pula kultus praktik keislaman yang ada di Turki. Aspek pendidikan juga menjadi point penting, mulai dari pendidikan pra sekolah, pemahaman dan ketersediaan layanan publik bagi disabilitas dan difabilitas, serta informasi beasiswa.
Ulasan menarik aspek sosial Turki bisa ditemui pada karya Lia Er, Misafir Perverlik, Keramah-tamahan Khas Bangsa Turki (hal 2). Masyarakat Turki sangat memuliakan tamu, karena mereka berkeyakinan bahwa tamu atau misafir pembawa berkah. Misafir membawa 10 berkah, 9 ditinggalkan di rumah pengundang, 1 keberkahan dibawa untuk dirinya.
Maka, memuliakan misafir bagi masyarakat Turki merupakan bagian dari kultus pengamalan agama. Mereka meyakini, keramah tamahan pada tamu adalah penolong yang bisa memudahkan dalam menjalani hidup, memupuk rasa aman, dan mempererat persaudaraan, tentu harapan utama adalah memperoleh keberkahan hidup (hal 5). Berkah atau bereket, menjadi penghias dalam setiap transaksi masyarakat Turki, baik ditingkat toko modern, maupun pasar tradisional.
Tidak hanya tamu, entitas sosial mereka juga terjadi pada setiap pendatang, lebih-lebih pada pelajar atau santri asing dan imam masjid. Mereka sangat memuliakan golongan tersebut, mereka yakin bahwa menjamu pendatang adalah bentuk lain dari ibadah (hal 8).
Kisah-kisah lain yang berkaitan erat dengan Turki juga dinarasikan dalam buku ini. Kilatan cahaya kesamaan dengan Indonesia sangat tampak dan nyata. Kirmizi Beyaz yang berarti “merah putih” melambangkan Indonesia sekaligus merepresentasikan Turki secara bersamaan. 

]]>
<![CDATA[Perpanjangan Deadline Call for Paper!]]>Mon, 16 Apr 2018 02:29:59 GMThttp://insight-indonesia.com/news/perpanjangan-deadline-call-for-paper​Insight Indonesia (www.insight-indonesia.com) memperpanjang deadline pengiriman paper untuk buku yang akan diterbitkan pada bulan Juli 2018 dengan tema: "Pemerintah dan Pemerintahan Daerah: Refleksi pada Era Reformasi"

Ketentuan tulisan:
Terbuka bagi siapa saja
Judul artikel harus sesuai tema dan spesifik dan lugas dengan maksimal 12 kata.
Tulisan sendiri dan belum pernah dipublikasikan di tempat lain baik dalam bentuk cetak maupun online. Tidak mengandung unsur plagiarisme.
Setiap orang diperbolehkan mengirim lebih dari satu naskah;
Setiap naskah yang masuk melalui proses pengeditan oleh tim editor namun tidak mengubah pesan yang ingin disampaikan penulis;
Naskah ditulis dengan panjang 4 sampai 8 halaman (di luar Daftar Pustaka); spasi 1.5 Times New Roman, font 12;
Referensi ditulis dengan menggunakan Harvard Style dengan format in-text citation. Misal: (Fitzgerald, 2014);
Naskah tulisan yang disertai CV dan foto tampak wajah dikirim kepada panitia paling lambat 30 April 2018 melalui email: admin@insight-indonesia.com]]>
<![CDATA[Call for Paper 2018]]>Mon, 19 Mar 2018 08:36:00 GMThttp://insight-indonesia.com/news/call-for-paper-2018.
Insight Indonesia (www.insight-indonesia.com) akan menerbitkan buku pada bulan Juni 2018 dengan tema: "Pemerintah dan Pemerintahan Daerah: Refleksi pada Era Reformasi"

Ketentuan tulisan:
Terbuka bagi siapa saja
Judul artikel harus sesuai tema dan spesifik dan lugas dengan maksimal 12 kata.
Tulisan sendiri dan belum pernah dipublikasikan di tempat lain baik dalam bentuk cetak maupun online. Tidak mengandung unsur plagiarisme.
Setiap orang diperbolehkan mengirim lebih dari satu naskah;
Setiap naskah yang masuk melalui proses pengeditan oleh tim editor namun tidak mengubah pesan yang ingin disampaikan penulis;
Naskah ditulis dengan panjang 4 sampai 8 halaman (di luar Daftar Pustaka); spasi 1.5 Times New Roman, font 12;
Referensi ditulis dengan menggunakan Harvard Style dengan format in-text citation. Misal: (Fitzgerald, 2014);
Naskah tulisan yang disertai CV dan foto tampak wajah dikirim kepada panitia paling lambat 15 April 2018 melalui email: admin@insight-indonesia.com]]>
<![CDATA[Strong Civil Society Key to Indonesian Democracy: Experts]]>Wed, 07 Mar 2018 07:52:14 GMThttp://insight-indonesia.com/news/strong-civil-society-key-to-indonesian-democracy

Safrin La Batu
Insight Indonesia editorial

The Indonesian government should strengthen its civil society to prevent the country from experiencing democratic setback many nations around the globe have been seeing, experts said in a discussion on Saturday.

Muhammad Syauqillah, University of Indonesia expert on Islam and Middle Eastern politics, said a strong civil society did not just provide greater extent of check of balances in the government, it also helped with tackling the spread of radical and extreme ideology, which is seen as an equally dangerous threat for democracy.

Indonesia should be aware of the ongoing conflicts in the Middle East as they could be a starting point from where radical ideology is spread in Indonesia, Syaqillah said, citing, for example, the fact that Bahrun Naim, an Indonesian terrorist leader who reportedly died in Syria last year, could get followers by using the rhetoric of fighting the "infidels" in Syria.

"Indonesia is much affected by political constelation in the Middle East," Syauqillah said in a discussion held by Insight Indonesia in Inisiatif Coffe, South Jakarta (10/2/2018). Syauqillah said the government could support the spread of Indonesian Islam among the Muslim community in the country. Indonesian Islam, he said, is tolerant in nature in comparison to a stricter type of Islam developed from the Middle East.

A strong civil society also can help pushing the military into the barrack, said Muhammad Sya'roni Rofii, a political science lecturer at Syarif Hidayatullah Islamic University in Jakarta. Military intervening in politics has been blamed for democratic setback in many countries including in neighboring Thailand. Sya'roni cited Turkey as an example where  a strong civil society could prevent a military coup d'etat attempt in 2016. "All elements of society: religious, liberals and even opposition got to the street to oppose the military coup," he said.

Meanwhile, Ali Rif'an, director of Monitor Indonesia, said the Indonesian government should be able to take lessons from events in other countries such as one in Turkey.


]]>